Majalah SDA Mei-Juni 2019
Bendungan Gondang , Destinasi wisata baru Jawa Tengah
Bendungan Gondang terletak di Kabupaten Karanganyar, Jawa
Tengah. Diresmikan 2 Mei 2019.Dibangun oleh Kementerian PUPR melalu Ditjen SDA
dan BBWS Bengawan Solo, Pengerjaan proyek Bendungan ini memakan waktu 5 tahun,
yaitu 2014-2015. Bendungan ini dapat menampung 9,15 juta meter kubik yang bisa
dimanfaatkan untuk air irigasi seluase 4.680 hektar di Sragen dan Karanganyar.
Selain itu bermanfaat sebagai penyedia air baku sebesar 200 liter/detik bagi
masyarakat sekitar, dan bisa mereduksi banjir 639,22 meter kubik/detik, dan
memproduksi listrik 0,33 megawatt.
Bendungan
Rotiklot, Harapan baru Masyarakat Belu
Bendungan Rotiklot berada Kabupaten Belu, NTT. Dibangun oleh
Ditjen SDA dan diresmikan Presiden Joko Widodo 20 Mei 2019, para petani
diharapkan bisa lebih mudah mengatur pasokan air sehingga proudktivitas bisa
naik, dan meningkat pula cadangan pangan nasional. Kehadiran bendungan Rotiklot
ini sangat berarti bagi masyarakat sekitar NTT mengingat wilaah NTT memiliki
musim hujan sangat sedikit dibanding musim kemaraunya. Bendungan ini merupakan
1 dari 49 bendungan yang dibangun ditjen SDA periode 2015-2019. Bendungan ini
mampu menampung sebanyak 3,3 juta meter kubik air, bisa memasokair untuk daerah
irigasi seluas 139 hektar, menyediakan air baku sebesar 40 liter/detik juga
pengendali banjir dan objek wisata.
Bendungan Sidan, Siap tambah pasokan air baku di Bali
Pesona wisata pulau Bali yang indah membuat semakin banyak
pendatang dan peningkatan populasi sebanyak 4%/tahun. Laju pertumbuhan ini
tentunya berdamoaj pada kebutuhan air baku.Maka salah satu upaya dalam
mengantisipasi kebutuhan air baku adalah dengan membuat bendungan Sidan yang
berlokasi di Kabupaten Badung, Bangli dan Gianyar. Groundbreaking bendungan ini
dilaksanakan April 2019. Direncanakan akan memiliki kapasitas tampungan sebesar
3,82 juta meter kubik dan ditargetkan selesai 2021. Bendungan Sidan ini
terletak pada DAS Tukad Ayung, mamou memasok air baku sebesar 1.750 liter/detik
untuk kota Denpasar, Badung, Gianyar, dan Tabanan. Selain itu bendungan ini
juga bermanfaat untuk PLTA sebesar 0,65 megawatt dan konservasi SDA, juga
pariwisata.
Embung Lambadeuk, Aceh Besar tak lagi murung
Baik burukna kualitas hidup masyarakat salah satunya adalah
ketersediaan air bersih. Ketersediaan air bersh di Aceh, khususnya di Kecamatan
Peukan bada Desa Lamguron, Lambadeuk, Lambari, Lampageu masih tradisionlal
dimana mengalirkan air bersih dari mata air pegunungan menggunakan bambu yang disambung
menjadi pipa dan mengalir ke rumah warga. Bambu2 itu hancur setelah adanya
gempa dan tsunami 2004. Air tawarpun semakin sulit didapat. Namun BBWS Sumatera
I merupakan Ditjen SDA Aceh membangun Embung Lambadeuk yang memiiiki kapasitas
tampungan air sebanyak 150.000 meter kubik mampu menyediakan air baku bagi
1.550 jiwa untuk irigasi seluas 36 hektar.
Berwisata ke Embung Giriroto
Indonesia memiliki potensi sumber daya air sangat besar, 3,9
triliun m kubik/tahun, namun masalahnya air tersebut belum merata antara daerah
satu dengan daerah lainnya. Ada yg kena banjir, ada yang kemarau. Banyak air
hujan langsung menuju laut tanpa dimanfaatkan terlebih dahulu. Sehingga untuk
memaksimalkan potensi air tersebut, melaui Kemen PUPR dan Ditjen SDA membangun
banyak tampungai air seperti bendungan, waduk, embung. Salah satunya embung
Giriroto di Boyolali. Embung Giriroto memiliki luas 1,3 hektar dengan kedalaman
5,5 meter mamp menampung air sebanyak 48.000 meter kubik, diharaplan mampu
mengairi lahan pertanian seluas 74 hektar. Selain itu, embung ini bisa juga dijadikan
sebagai destinasi wisata keluarga. Ada berbagai permainan seru seperti perau
bebek, mainam mobil-mobilan juga odong2. Bisa juga untuk menikmati momen sunset
yang menampilkan panorama senja yang indah.
Dukung Infrastruktur SDA Bidang Perikanan Bersama KKP
Dilakukan pengembangan infrastruktur infrastruktur bidang
SDA di kawasan perikanan budi daya dengan penandatanganan kerjasama penyediaan
infrastruktur Pertambakan antara Ditjen SDA Kemen PUPR dan Ditjen Perikanan
Budidaya Kemen Kelautan dan Perikanan pada 12 April 2019 di Jakarta. Tujuan
dari Perjanjian Kerja Sama (PKS) adalah untuk meningkatkan nilai tambah,
peningkatan budi daya, berkelanjutan bagaimana sistem tambak perikanan dapat
lebih tertata dengan baik. Selama 5 tahun, implementasi program yang dilakukan
oleh kedua kementerian itu telah menghasilkan 150 derah Irigasi Tambak tersebar
di 89 kab/kota.
Hasilnya begitu terlihat,khususnya di pertambakan udang. Tahun
2010, panen udang sebersar 379.000 ton dan tahun 2017 meningkat menjadi 1.150.000
ton. Ini salah satu dampak dari adanya perbaikan irigasi, kebersihan dan
kualitas air, dan ada instalasi pengolah limbah dimana semua produksi tidak
boleh mencemari lingkungan. Dampak lainnya adalah adanya peningkatan pendapatan
petani tambak dari 2,8 juta/bulan menjadi 3,3 juta/bulan.
(bersambung)
Komentar
Posting Komentar